Kamis, 09 Desember 2010

Evolusi & Revolusi Teori Manajemen

A. Evolusi & Revolusi Teori Manajemen
Teori tentang Manajemen dan banyak teori - teori lain berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan terikat oleh kondisi interaksi masyarakat pada waktu tertentu pula.
Perkembangan teori manajamen secara umum dapat dikatakan sebagai sebuah Evolusi, karena perkembangannya berlangsung secara turun temurun, dan berlangsung selama ribuan tahun, baik itu dari kehidupan jaman prasejarah hingga kehidupan modern saat ini.
Sebagai contoh :
 Proses berburu manusia jaman purba yang terorganisir dimana setiap anggota memiliki tugas untuk menyerang mangsanya dari posisi masing – masing, dan proses ini dipimpin oleh seseorang kepala suku, untuk mencapai tujuannya yaitu daging buruannya.

 Adanya piramida di Mesir. Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang—tanpa mempedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu—yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.

 Penduduk Venesia mengembangkan bentuk awal perusahaan bisnis dan melakukan banyak kegiatan yang lazim terjadi di organisasi modern saat ini. Sebagai contoh, di gudang senjata Venesia, kapal perang diluncurkan sepanjang kanal dan pada tiap -tiap perhentian, bahan baku dan tali layar ditambahkan ke kapal tersebut. Hal ini mirip dengan model lini perakitan (assembly line) yang dikembangkan oleh Hanry Ford untuk merakit mobil-mobilnya. Selain lini perakitan tersebut, orang Venesia memiliki sistem penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen sumber daya manusia untuk mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi untuk melacak pendapatan dan biaya.

Namun perkembangan Teori Manajemen dapat juga dikatakan sebuah Revolusi karena berlangsung secara ‘cepat’ dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Misalnya revolusi industri di Inggris yang terjadi pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap 'cepat' karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun.
Tokoh – tokoh yang berperan penting ketika itu antara lain Robert Owen, Charles Babbage, Frederick Winslow Taylor, Frank Bunker Gilberth dan Lilian Gilberth, Henry Laurance Gantt, Harrington Emerson, Henry Fayol, James D. mooney,dst.
Mempelajari sejarah manajemen sangat penting bagi kita untuk dapat memperoleh gambaran tentang bagaimana manajemen itu telah berlangsung pada masa lalu, bagaimana kemudian manajemen tersebut berkembang, prisip- prinsip apa yang dikembangkan pada masa lalu dan bagaimana manajemen tersebut berlangsung dewasa ini. Akhirnya kita harus pula mempelajari dan mengantisipasi perkembangan dimasa mendatang yang tentu saja juga akan menentukan arah pertumbuhan manajemen itu sendiri. Dengan mengetahui arah perkembangan manajemen tersebutmaka kita juga akan dapat mempersiapkan dirikita untuk membekali diri kita masing – masing dengan keterampilan – keterampilan manajerial yang diperlukan di masa mendatang.
Untuk memperjelas gambaran yang diuraikan tgadi, gambar 2.1 berikut ini menunjukan sejarah perkembangan manajemen dari zaman dahulu samapai dengan perkembangan sekarang ini.









Gambar 2.1 Sejarah Perkembangan Manajemen


B. Teori Manajemen Ilmiah
Teori manajemen ilmiah
Gerakan manajemen ilmiah sebenarnya telah dimulai sekitar akhir abad lalu, dimana para insinyur Amerika Serikat dan Eropa mencari dan mengembangkan cara – cara baru untuk mengelola suatu perusahaan. Beberapa variable yang diperhatikan dalam manajemen ilmiah adalah sebagai berikut :
a. Pentingnya peranan manajer dalam menggerakkan dan meningkatkan produktivitas perusahann.
b. Pengangkatan dan pemanfaatan tenaga kerja dengan persyaratan – persyaratannya.
c. Tanggung jawab kesejahteraan pegawai/ karyawan.
d. Kondisi yang cukup untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Peran manajer (pimpinan) dalam menentukan pilihan kebijaksanaaan perusahaan adalah sangat penting. Selain itu, manajer harus dianggap sebagai reformis dalam memperbaharui persyaratan – persyaratan kerja, kondisi kerja, hari standar kerja, tanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawan dan lain – lain. Dari perbaikan/pembaharuan dalam manajemen, aspek – aspek manajemen ilmiah mempunyai tujuan agar tingkat produktivitas perusahaan, efisien dan efektivitas perusahaan dapat ditingkatkan. Selain itu dalam manajemen ilmiah juga memperhatikan prinsip – prinsip pembagian kerja di antara para pegawai dalam suatu perusahaan.
Dengan pembagian kerja (suatu pekerjaan dapat dipecah – pecah menjadi bagian – bagian disiplin kerja yang terspesialisasi) selain akan mengkonsentrasikan tenaga kerja yang terspesialisasi itu sehingga waktu dan biaya pendidikan yang mahal dapat diminimalisir dan proses pengulangan kembali secara terus menerus akan dapat meningkatkan keterampilan kerja tenaga yang bersangkutan dan dapat menambah efisiensi kerjanya.

Dalam hal perbaikan kesejahteraan karyawan, antara lain diperhatikan pada metode pemikiran upah (gaji) pada karyawan. Metode apa yang digunakan dalam pemberian upah harus dikaitkan dengan produktivitas kerja. Pendekatan ini disebut sebagai metode pemberian insentif.



Untuk lebih jelasnya marilah kita ikuti beberapa teori ilmiah menurut perintis dan pencetusnya secara kronologis berikut :

a. Robert Owen (1771 – 1858)

Ia adalah seorang manajer beberapa pabrik pemintal kapas di New Lanark Scotlandia semenjak tahun 1800 – an. Dalam teorinya ia menekankan tentang peranan sumber daya manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan. Khususnya peranan jabatan dalam manajemen sumber daya manusia ini. Robert Owen merintis manajemen ilmiah, karena beliau digerakkan oleh kenyataan kondisi dan persyaratan kerja yang tidak memadai; di saat itu sangat buruk. Memperkejakan anak – anak dibawah usia 5 tahun pada saat itu sudah umum berlaku. Standar waktu hari kerja sehari selama 13 jam sudah biasa terjadi. Oleh karena itu, perbaikan kondisi dan persyaratan kerja seperti pengurangan standar hari kerja menjadi 10,5 jam.

Pembatasan usia tenaga kerja yang dipekerjakan menolak pekerja yang usianya kurang dari 10 tahun dan mengadakan toko – toko perusahaan guna memberikan pelayanan kepada para karyawan akan kebutuhan manusia sehari – hari dengan memberikan harga yang lebih murah. Selain itu, ia menentukan prosedur – prosedur kerja yang dapat meningkatkan produktivitas kerja. Dengan perbaikan – perbaikan kondisi kerja, pelayanan kesejahteraan bagi karyawannya, maupu prosedur kerja yang dibuat, ia berharap agar produktivitas tenaga kerja dapat lebih ditingkatkan lagi.

b. Charles Babbage (1792 – 1971)

Ia adalah seorang rofesor matematika yang telah banyak mencurahkan perhatiannya bagi cara – cara kerja di pabrik supaya lebih efisien. Ia percaya bahwa penerapan prinsip – prinsip ilmiah dalam proses kerja akan dapat menigkatkan produktivitas kerja da dapat menekan biaya – biaya. Babbage mengajurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian pekerjaan.

Setiap pekerjaan dalam pabrik dapat dibagi – bagi menjadi bermacam – macam keterampilan. Akibatnya setiap pekerja (karyawan) dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Stiap pekerja hanya dituntuk tanggung jawab khusus ( sebagian atau tertentu) sesuai sdengan spesialisasinya dari semua bagian keseluruhan pabrik (perusahaan). Dengan demikian, waktu dan biaya yang mahal dalam pelatihan (pendidikan) dapat ditekan dan proses pengulangan pekerjaan secara terus menerus dapat mengakibatkan peningkatan keterampilan pekerja yang bersangkutan dan efisiensi dapat dicapai.

c. Frederick W. Taylor

Mula – mula yang menjadi titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah berasal dari hasil penelitian F.W Taylor tentang studi waktu kerja (time and motion studies) pada bagian produksi dimana dia bekerja, di perusahaan Midvales Stell. Dengan penelitian waktu sebagai dasarnya ia dapat memecahkan setiap pekerjaan ke dalam komponen – komponennya dan merancang cara pengerjaannya yang tercepat dan terbaik untuk setiap pekerjaan. Ini juga berarti bahwa ketentuannya adalah menentukan seberap pekerja dapat menyelesaikan dengan bahan dan peralatan yang tersedia di perusahaan.

Taylor menekankan bahwa antar waktu penyelesain pekerjaan dapat dikorelasikan dengan upah yang diterimakan; yaitu semakin cepat atau tinggi prestasi kerja dalam menyelesaikan pekerjaannya, akan semakin tinggi upah yang diterimanya. Metode pendekatan ini disebut sebagai “sistem upah defferensial”(defferensial rate system), peningkatan produktivitas kualias, semangat kerja, dan upah yang diterimakan dapat dilakukan dengan melaksanakan pendidikan keterampilan, mengadakan “time and motion study”, mengutamakan tukar – menukar (transfer)antara pejabat/ karyawan tertentu dengan karyawan yang lain, memberikan waktu istirahat dalam bekerja, dan memberikan system pengupahan deferensial dan perbaikan – perbaikan lainnya.

Tabel 2.1 Empat Prinsip Manajemen Menurut Taylor

1. kembangkanlah sebuah ilmu bagi setiap unsur pekerjaan seseorang, yang akan menggantikan metode kaidah ibu jari yang lama.
2. secara ilmiah pilihlah dan kemudian latihlah, ajarilah atau kembangkanlah pekeja tersebut. (sebelumnya, para pekerja memilh sendiri ekerjaan mereka dan melatih diri mereka sendiri semampu mereka)
3. bekerjasamalah secara sungguh – sungguh dengan para pekerja untuk menjamin bahwa semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan prinsip – prinsip ilmu yang dikembangkan tadi.
4. bagilah pekerjaan dan tanggung jawab secara hamper merata antara pimpinan dengan para pekerja. Manajemen mengambil alih semua pekerjaan yang lebih sesuai baginya ketimbang bagi para pekerja.


d. Henry L. Gantt (1861 – 1919)

Henry L. Gantt yang dalam pengalamannya pernah bekerja bersama – sama dengan Taylor mengemukakan teorinya, juga bertitik tolak pada usah meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas;. Kerja dengan rangsangan upah atau insentif. Gagasan Henry L. Gantt mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, antara lain :
a. kerja sama yang saling menguntungkan antar manajer dan karyawan
b. mengenai metaode seleksi yang ilmiah untuk menentukan tenaga kerja yang benar – benar tepat.
c. System bonus dan penggunaan instruksi dalam pengaturan kerja.

Tetapi dalam penentuan bonus tidak seperti yang dikemukakan oleh Taylor dengan system upah differensial. Henry L. Gantt justru menolak system upah differensial. Hal ini menurutnya justru akan berdampak terlamapu kecil motivasi kerja bagi tenaga kerja. Oleh kareana itu, dia mengemukakan gagasan bahwa bagi tiap – tiap pekerja yang dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya untuk suatu hari, maka ia berhak menerima bonus sebesar 50 sen dollar untuk hari itu.

Sistem bonus yang diterapkan Gantt ini juga berlaku bagi para mandor manakala yang menjadi tanggung jawabnya (anak buah) itu dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selai itu , Henry mengembangkan gagasan Owen dalam metode penilaian atas pekerjaan karyawan, yakni dengan mengadakan metode pencatatan atas hasil pekerjaan karyawan memenuhi standar, maka dia beri warna hitam, jika tidak memenuhi standar maka kode warna merah. Lebih lanjut dia mengemukakan gagasannya dalam membuat system baru tentang penggambaran jadwal produksi sebagai alat untuk instruksi dan pengawasan bagi manajer perusahaan.

e. Frank B (1868 – 1924) dan Lilian M. Gilbreth (1878 – 1972)

Kedua pelopor manajemen ilmiah ini mendasarkan gagasannya pada hasil penelitian tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam pekerjaan. Menurut Frank B. Gilbreth, bahwa antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan, setiap gerakan yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Sementar itu menurut M. Gilbreth dalam pengaturan untuk mencapai gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan, maka akan mempunyai pengaruh terhadap upaya untuk mengoptimalkan kemampuan pekerja sebagai manusia.

Jadi menurut kedua tokoh ini bahwa penelitian gerakan akan meningkatkan semangat kerja bagi pekerja; hal ini dikarenakan adanya keuntungan – keuntungan fisik terhadap pekerja itu sendiri yang harus dapat memanfaatkan kemampuan secara optimal. Gagasan program pengembangan karyawan lebih ditekankan pada karyawan itu sendiri untuk menerima jabatan yang lebih tinggi, penyelesaian pelatihan terhadap pengganti – penggantinya. Jadi setipa pekerja harus bias berfungsi sebagai pelaku, pelajar dan guru dan berharap akan kesempatan baru.

f. Herrington Emerson (1853 – 1931)

Herrington Emerson melihat bahwa penyakit yang mengganggu sistem manajemen di dalam industri ialah adanya masalah pemborosan dan in – efisiensi. Oleh karena itu dia mencetuskan ide – ide yang terformulasikan dalam 12 prinsip sebagai berikut :

a. Perumusan tujuan dengan jelas
b. Kegiatan yang dilaksanakan masuk akal
c. Tersedianya staf yan cakap
d. Terciptanya disiplin kerja
e. Pemberian basa jasa yang adil
f. Laporan terpercaya, cepat, tepat, dan kontinyu
g. Pemberian instruksi – perencanaan dari urutan – urutan kerja
h. Adanya standar – standar dan skedul, metode dan waktu setiap kegiatan
i. Kondisi yang standar
j. Operasi yang standar
k. Instruksi – instruksi praktis tertulis standar
l. Balas jasa efisien – rencana insentif.


SUMBANGAN DAN KETERBATASAN MANAJEMEN ILMIAH
Sumbangan manajemen ilmiah telah di akui dan dapat memberikan kontribusi yang cukup baik bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi kerja. Peningkatan produktivitas telah sangat didukung dengan sistem pembagian kerja sesuai bagian – bagian dari suatu proses pekerjaaan, adanya spesialisasi – spesialisasi tertentu. Sementara teknik – teknik efisiensi manajemen ilmiah seperti yang ditunjukan dalam studi gerak dan waktu telah membuktikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan dapat lebih efisien.

Dengan demikan seleksi dan pengembangan ilmiah para pekerja justru menimbulkan kesadaran tentang pentingnya latihan – latihan untuk meningkatkan efektivitas serta efisiensi kerja. Sumbangan lain dari manajemen ilmiah ialah adanya desain kerja yang telah mendorong para manajer dapat menetapkan suatu cara terbaik dalam melaksakan suatu pekerjaan. Namun demikian, meski cukup besar sumbangan yang diberikan oleh manajemen ilmiah bagi kemajuan manajemen. Tapi pada umumnya manajemen ilmiah memiliki keterbatasan – keterbatasan, terutama dalam aplikasinya.

Ajaran manajemen ilmiah mengenai upaya peningkatan produktivitas justru dalam aplikasinya menimbulkan beberapa pengaruh yang tidak menguntungkan bagi kepentingan system manajemen itu sendiri. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa konsep produktivitas dengan dukungan penerimaan teknologi justru bannyak mengurangkan (menciutkan) skala penggunaan tenaga kerja. Kelemahan lain adalah tenaga kerja sebagai salah satu factor produksi tidak atau kurang mendapatkan perhatian atas kebutuhan sosialnya, personalitinya, yang justru hal ini sangat dibutuhkan. Arti kepuasan tenaga kerja kurang diperhatikan secara utuh. Upah yang tinggi saja tanpa memperhatikan kondisi kerja yang cukup memuaskan dengan makin berjalannya wkatu, tujuan produktivitas dalam manajemen ilmiah tidaklah mendapatkan tempat sebagaimana mestinya.

C. Teori Manajemen Klasik

1. Henry Fayol ( 1841- 1925)

Henry Fayol adalah seorang industriawan Perancis yang kemudian terkenal sebagai bapak manajemen operasional mngembangkan manajemen sebagaimana yang diemukakannya dalam bukunya yang terkenal yang berjudul Administration Industrielle et generale : Fayol berpendapat bahwa dalam perusahaan industri kegiata – kegiatan yang dilaksanakan manajemen dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok tugas, yaitu :

- Technical. Merupakan kegiatan memproduksi dan membuat produk. Kegiatannya meliputi merencanakan dan mengorganisir produk.
- Commercial. Meliputi kegiatan membeli bahan – bahan yang dibutuhkan dan menjual barang (hasil produksi).
- Financial. Kegiatan pembelanjaan, yakni meliputi kegiatan mencari modal da bagaimana menggunakan modal tersebut.
- Security. Yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menjaga keamanan (keselamatan kerja dan harata benda yang dimiliki perusahaan).
- Akuntansi. Meliputi kegiatan yang terdiri dari mencatrat, menghitung, mengkalkulasi biaya yang dilaksanakan, menghitung dan menentukan keuntungan yang diperoleh, mengetahui hutang – hutang yang menjadi kewajiban perusahaan menyajikan neraca, laporan rugi laba,dan mengumpulkan data – data dalam bentuk statistic.
- Tugas Manajerial. Melaksanakan fungsi – fungsi yang ada dalam manajemen.

2. James D. Mooney

Menurut James D. Mooney; kaidah – kaidah yang diperlukan untuk menetapkan orgainsasi manajemen adalah sebagai berikut:
- Koordinasi, merupakan kaidah yang menghendaki aadaynya wewenang, saling melayani, perumusan tujuan dan kedisiplinan yang tinggi.
- Prinsip skalar, yaitu suatu prinsip yang mendefinisikan tentang hubungan kepemimpinan, pendelegasian dan antar fungsi – fungsi tertentu yang dibutuhkan.
- Prinsip Fungsional, merupakan suatu prinsip yang mendefinisikan berbagai macam tugas yang harus diselesaikan serta dalam usaha mencapai tujuan bersama.
- Prinsip Staf, merupakan prinsip yang membedakannya sebagai manajer staf dan lini lainnya.

3. Mary Parker Follet (1868 – 1933)

Tokoh lain yang memberikan sumbangan terhadap pandangan prinsip – prinsip administrasi adalah Mary Parker Follet, yang pada saat kematiannya pada tahun 1933 dianggap sebagai salah satu dari wanita terpenting yang dihasilkan oleh Amerika Serikat di bidang sosiologi dan kewarganegaraan. Dalam tulisannya tentang perusahaan dan organisasi – organisasi yang lain, Follet mengulas pemahaman tentang kelompok dan tentang komitmen yang tinggi terhadap kerja sama antar manusia. Menurutnya, kelompok merupakan suatu mekanisme dimana individu yang beraneka ragam dapat menggabungkan bakat – bakat yang dimiliki untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Organisasi dianggapnya sebagai sesuatu komuniytas tempat manajer dan karyawan bekerja secara harmonis, tanpa salah satu pihak menguasai pihak yang lain, serta mampu menyelesaikan segala perbedaan dan pertentangan yang ada melalui diskusi. Dia juga menganggap bahwa tugas manajer adalah membantu karyawan dalam organisasi untuk saling bekerja bersama mencapai kepentingan – kepentingan yang terintegrasi.

Arti penting yang lebih jauh dari pandangan Follet terlihat dalam Dynamic Administration : The Collected Papers of Mary Parker Follet. Follet berpendapat bahwa dengan membuat karyawan merasa memiliki perusahaan akan tercipta rasa tanggung jawab koliktif. Dewasa ini, kita memunculkan isu serupa dengan istilah employee ownership profit sharing, dan gain – sharing plans. Follet juga berpendapat bahwa permasalahan dalam bisnis melibatkan berbagai macam factor yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan hubungan antara masing – masing factor. Sekarang ini kita sering berbicara tentang system pada saat menggambarkan fenomena yang serupa. Follet yakin bhwa perusahaan seharusnya memberikan pelayan dan keuntungan yang diperoleh perusahaan harus dikaitkan dengan kesejahteraan umum. Saat ini, kta sering membicarakan hal semacam itu dengan istilah etika manajerial dan tanggung jawab social perusahaan.



4. Chaster L. Barnard (1886 – 1961)

Chaster memandang organisasi sebagai suatu system kegiaatan yang diarahkan pada tujuan. Fungsi – fungsi utama manajemen, menurut pandanga Bernard adalah perumusan tujuan dan pengadaan sumber daya – sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Barnard menekankan pentingya peralatan komunikasi untuk pencapaian tujuan kelomok. Dia juga mengemukakan teori penerimaan pada wewenang. Menurut teorinya, bawahan akan menerima perintah hanya bila mereka memahami dan mampu serta berkeinginan untuk menuruti atasan. Barnard adalah seorang pelopor dalam penggungaan pendekatan system untuk pengelolaan organisasi.
D. Pendekatan Hubungan Manusiawi
Perkembangan berikutnya dalam manajemen dimulai sejak 1930 dan menjadi popular pada tahun 1950-an, aitu manajemen yang banyak memberikan perhatian terhadap hubungan kemanusiaan kepada para karyawan. Pandangan ini muncul sebagai akibata dari kelemahan – kelemahan pada manajemen yang berorientasi tugas (klasik) yang kemudian menimbulkan banyak kritik terhadapnya. Dengan gaya ortodoks dan otokratis itu, maka pekerjaan menjadi monoton dan membosankan sehingga menimbulkan stress serta produktivitas berhenti atau bahkan menurun.
Theori X dan Y
Souglas McGregor
Beberapa cabang utama dalam pendekatan hubungan manusia ini dapat dilihat dalam gambar 2.2. dalam cabang – cabang tersebut termasuk studi Hawthorne yang terkenal dan teori kebutuhan manusia dari Maslow, serta beberapa teori yang dibangun oleh Douglas McGregror, Chris Argyris, dan lainnya. Pendekatan sumber daya manusia menyatakan bahwa manusia pada dasarnya bersifat sosial dan ingin mengaktualisasikan dirinya. Menurut pendekatan ini, di tempat kerja orang berusaha untuk memuaskan kebutuhan sosialnya, memberikan reaksi atas tekanan dari keompok serta berusaha memenuhi kebutuhan pribadi.
Hawthorne Studies
Elton Mayo
Human Resource Approuach

Asumsi manusia adalah mahkulk sosial dan mempunyai keinginan untuk aktualisasi






Teori Kebutuhan Manusia
Abraham Malow
Kepribadian dan Organisasi
Chris Argyris


Gambar 2.2 Pendekatan Hubungan Manusiawi

Studi Hawthorne
Salah satu hasil nyata dari penelitian ini adalah beralihnya perhatian manajer dan peneliti bidang manajemen dari hal – hal yang berkaitan dengan teknis dan structural seperti dalam pendekatan klasik menjadi lebih ke hal – hal yang berkaitan dengan sosial dan kemanusiaan sebagai kunci bagi produktivitas.


E. Pendekatan Manajemen Modern
Manajemen modern pada dasarnya dibangun atas dua konsep utama, yaitu Teori tentang perilaku organisasi (organizational behavior) dan Manajemen Kuantitatif (management science).
1. Teori Perilaku
Pandangan – pandangan umum dalam teori perilaku ini ditandai oleh tiga tingkatan kelompok perilaku, yaitu :
1) Perilaku individu per individu
2) Perilaku antar kelompok – kelompok sosial
3) Perilaku antar kelompok sosial
Beberapa nama yang menganut teori ini antara lain :
a. Douglas McGregor melalui teori X dan Y nya
b. Abraham Maslow yang mengembangkan adanya hierarki kebutuhan dalm penjelasannya tentang perilaku manusia dan dinamika proses motivasi.
c. Frederich Herzberg yang menguraikan teori motivasi hiegenis atau teori dua faktor.
d. Robert Blake dan Jane Mouton yangmenjelaskan lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial (managerial grid)
e. Chris Argyris yang memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.
f. Edgar Schein yang banyak meneliti dinamika kelompok dalam organisasi dan sebagainya.
g. Rensis Likert yang telah mengidentifikasikan dan melakukan penelitiannya secara intensif mengenai empat sistem manajemen.
h. Fred Fiedler yang menyarankan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.
Adapun pokok - pokok pikiran yang dikemukakan oleh para penganut teori perilaku tersebut dapat dirangkum sebagai berikut :
(1) Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi.
(2) Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan.
(3) Manajemen harus sistematik,dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan secara hati – hati.
(4) Manajemen teknik dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat 9peranan prosedur dan prinsi).

2. Teori Kuantitatif (management science)
Teori kuantitatif memfokuskan perhitungan manajemen didasarkan atas perhitungan – perhitungan yang dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya. Dalam setiap pemecahan harus terlebih dahulu diketahui masalahnya dengan melakukan kegiatan – kegiatan riset ilmiah, riset operasional, teknik – teknik ilmiah seperti kegiatan penganggaran modal, manajemen aliran kas, pengembangan strategi produk, perencanaan program, pengembangan sumber daya manusia dan sebagainya.
Pendekatan – pendekatan semacam ini dikenal sebagai pendekatan manajemen science atau ilmu manajemen yang biasanya dengan prosedur dan langkah – langkah sebagai berikut :
(1) Merumuskan masalah.
(2) Menyusun model matematik.
(3) Mendapatkan penyelesaian dari model.
(4) Menganalisi modeldan hasil yang diperoleh dari model.
(5) Menetapkan pengawasan atas hasil – hasil.
(6) Mengadakan implementasi kegiatan.
Pemecahan masalah manajemen dan pengambilan keputusan manajemen yang didasarkan atas pendekatan kuantitatif ini harus memberikan dasar kepada manajer menyangkut dasar – dasar pendekatan yang rasional.
F. Pendekatan Sistem Manajemen
Sistem dapat diartikan sebagai kumpulan dari bagian – bagian yang saling berhubungan antar satu dengan yang lainnya yang secara bersama – sama mencapai tujuan tertentu. Sedangkan subsistem itu sendiri adalah bagian kecil dari suatu sistem yang lebih besar.
Manajemen dapat dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang beriteraksi dengan lingkungannya dalam proses mengubah input atau masukan sumber daya menjadi outuput atau keluaran produk ( barang dan jasa).
G. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi berusaha untuk menyesuaikan antara tanggapan manajerial dengan peluang dan permasalahan yang ada dalam berbagai macam situasi. Dalam pendekatan ini yang dicari bukanlah cara – cara terbaik untuk mengatasi stuasi tersebtu melainkan berusaha membantu manajer untuk dapat memahami perbedaan – perbedaan situasional tersebut dan menanggapinya dengan cara - cara yang tepat.


Sumber :
Haris Budiyono, Amirullah; pengantar manajemen; graha ilmu; Jakarta, 2008
http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi
http://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi
http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_ilmiah
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/sisteminformasimanajemen/bab2_teori_manajemen_dan_organisasi.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri
http://www.pdamkotamalang.co.id/index.php/profil-manajer
https://apus2scott.wikispaces.com/Character+Sketches,+Age+of+Jackson+and+Reform
http://www.onlinemathtutor.org/help/mathematicians/charles-babbage-famous-mathematicians-2/
http://totalqualitymanagement.wordpress.com/2009/08/25/a-brief-history-of-qualtiy-control/
http://www.brighthub.com/engineering/mechanical/articles/36393.aspx
http://www.ed4web.collegeem.qc.ca/prof/asaumier/auteurs/fayol.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar